Zaranggi [Part. II]

Renungan Terbuka

“Tapi baiklah, Anda tak perlu menjawabnya. Sekarang, bolehkah saya bertanya masalah lainnya?” Zaranggi mengalihkan pembicaraan karena dia melihat tokoh kita betul-betul kebingungan.

“Si… si… i… silahkan” sang tokoh memaksakan diri untuk mempersilahkan Zaranggi untuk bertanya. Walaupun sebenarnya ia sudah mulai kewalahan menghadapinya.

“Tadi Anda katakan bahwa agama adalah penentu segala-galanya, dan manusia tidak boleh mempersoalkannya. Apakah masuk akal atau tidak? Pertanyaan saya, kepada siapa, atau apa, Anda merujuk kebenaran agama (tolok ukur kebenaran agama)?” Zaranggi mulai membuka masalah baru.

“Kami merujuk kepada al-Qur’an dan al-Hadits” jawab sang tokoh sambil berusaha membaca pikiran Zaranggi.

“Oh… benar! saya lupa untuk menanyakannya. Apa al-Qur’an dan al-Hadits itu?” Zaranggi bertanya setelah ia merubah posisi duduknya.

Karena sang tokoh menyadari siapa orang yang lebih muda yang duduk didepannya ini, maka ia mulai berhati-hati dalam menjawab pertanyaannya.

“Al-Qur’an adalah berasal dari firman-firman Tuhan yang diwahyukan–dibisikkan–kepada Nabi Muhammad, yang kemudian didiktekan kepada para sahabatnya, yang menuliskannya ke tulang-tulang atau ke kulit-kulit kayu dan lain-lain. Dan setelah beliau wafat, firman-firman itu dikumpulkan dan disusun menjadi suatu kitab oleh atau atas ide sahabat besar beliau yang bernama Utsman ibn Affan. Sedangkan al-Hadits adalah kumpulan kata-kata Nabi atau perbuatannya” jawab sang tokoh.

“Aneh juga agama Tuan ini!” Zaranggi menyeletuk. Memang, dengan kecerdasannya, ia dapat merasakan keanehan itu sebelum sang tokoh menyadarinya.

“Apa… apa kata Tuan, aneh?” Sang Tokoh sedikit tersinggung dan juga bingung.

“Benar Tuan” Zaranggi terpaksa menjawab, walaupun ia tahu bahwa tokoh kita itu sudah mulai tersinggung. Sebab ia sudah terlanjur mengatakan kata-kata itu tadi.

“Kenapa begitu?” tanya sang tokoh ingin tahu.

“Begini Tuan. Anda tadi mengatakan, bahwa Anda mengetahui dari al-Qur’an bahwa alam ini ada penciptanya, dan penciptanya hanya satu. Sementara Anda mengatakan bahwa al-Qur’an adalah kumpulan firman-firmanNya. Yah… bagi saya hal itu cukup aneh Tuan” Zaranggi menjelaskan.

Rupanya tokoh kita ini belum paham juga. Maka dari itu ia berkata:

“Kenapa aneh Tuan?”

“Dengan semua itu, yaitu al-Qur’an adalah ukuran segala-galanya, termasuk ada dan satunya Tuhan dan tidak bisa dengan jalan lain (jadi keberadaan dan ke-Esa-an Tuhan mau tidak mau harus dibuktikan dengan al-Qur’an), menandakan bahwa manusia harus beriman terlebih dahulu kepada al-Qur’an itu, sebelum mereka mengimani Tuhan itu sendiri. Bukankah hal itu cukup aneh Tuan?”

“Ee…e… maaf, Tuan Zaranggi, saya masih belum paham maksud Tuan” sang tokoh ingin penjelasan yang lebih rinci dari kata-kata Zaranggi itu.

“Tuan! Apakah tidak aneh kalau manusia disuruh mengimani kata-kata Tuhan sebelum mengimani adanya Tuhan itu sendiri? Atau mereka disuruh mengimani al-Qur’an terlebih dahulu sebelum mengimani adanya pengirim al-Qur’an?”

Tokoh kita tertegun sejenak, karena ia sudah paham maksud Zaranggi. Tapi ia masih punya jawaban untuk itu. Maka dari itu ia berkata:

“Katakanlah itu aneh akan tetapi yah… memang harus begitulah pada kenyataannya. Sebab, seperti yang saya katakan tadi bahwa akal kita terbatas. Yakni kita tidak akan dapat mengenalinya dengan akal. Maka dari itu kita harus kembali ke firman-firmannya.”

“Baik! (kata Zaranggi) berarti manusia disuruh percaya kepada al-Qur’an terlebih dahulu sebelum mempercayai Tuhan karena keterbatasan akal mereka. Sekarang saya mau bertanya kepada Anda, bagaimanakah caranya supaya manusia mempercayai al-Qur’an?”

“Yah… kita harus melihat bukti-buktinya” jawab sang tokoh.

“Kalau begitu kita harus membuktikan kebenaran ayat-ayatnya bukan?” Tanya Zaranggi.

“Benar” kata sang tokoh pendek.

“Wah… permasalahannya sekarang kok tambah rumit” Zaranggi mengeluh. Memang, dengan kecerdasannya ia dapat merasakan semua itu sebelum tokoh kita ini memahaminya. Oleh karena itu sang tokoh bertanya.

“Apanya yang rumit Tuan?”

“Tadi Anda mengatakan bahwa akal terbatas (kata Zaranggi) dan Anda mengatakan pula bahwa Tuhan ada dan Esa dari al-Qur’an, sementara sekarang Anda mengatakan bahwa kebenaran al-Qur’an harus dibuktikan sebelum kemudian mengimaninya. Lho… kalau akal terbatas maka bagaimana caranya membuktikan kebenaran ayat-ayat al-Qur’an yang mengatakan bahwa ‘Tuhan itu ada’ atau ‘Tuhan itu Esa dan lain-lain’?”

Terperangah juga sang tokoh mendengar jawaban Zaranggi itu. Dia bingung harus berkata apa. Tapi Ia berusaha untuk menutupi kebingungannya itu, walaupun tidak begitu berhasil. Dia bingung karena permasalahannya kok begitu peliknya, padahal sebelumnya ia tak pernah mempermasalahkan semua itu. Dan satu-satunya yang menjadi alat pembuktian kebenaran al-Qur’an selama ini karena tidak adanya orang yang mampu membuat satu ayat pun seperti al-Qur’an. Ia tidak tahu mengapa dulu tidak mempermasalahkan al-Qur’an seperti Zaranggi. Tapi seandainya ia pernah kafir atau dilahirkan dari ibu seorang kafir, maka ia akan tahu bahwa pertanyaan Zaranggi itu mestilah wajar-wajar saja, dan mesti pula ada jawabannya. Tapi apa boleh buat dia telah terlanjur memasuki aliran “Anti Akal” dalam memahami agama. Maka, tinggal satu lagi jawaban yang ia harap mampu memberikan penjelasan mengenai kebenaran al-Qur’an kepada Zaranggi. Oleh karenanya ia segera berucap:

“Tuan Zaranggi! Dalam al-Qur’an Allah berfirman, bahwa kalau manusia manapun tidak pecaya dan ingin membuktikan kebenaran al-Qur’an maka hendaknya ia membuat satu ayat saja seperti ayat al-Qur’an. Tapi nyatanya sudah berabad-abad tidak seorangpun yang mampu melakukannya. Apalagi sampai satu surat, satu juz atau bahkan satu kitab. Dengan bukti ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa al-Qur’an memang datang dari-Nya.’’

“Baik! (kata Zaranggi), dalil Anda tadi hanya membuktikan bahwa al-Qur’an dari Tuhan bukan dari manusia. Tapi hal tersebut tidak dapat membuktikan bahwa Tuhan hanya satu. Sebab, seperti agama kami, Zoroaster, ada tiga Tuhan, yaitu Ahuramazda, Yozdan dan Ahriman. Nah, barangkali al-Qur’an itu datang dari salah satu dari mereka. Apa jawab Tuan tentang hal ini?”

“Ah… itu tidak mungkin Tuan!” sergah sang tokoh.

“Kenapa?” Zaranggi ingin tahu.

“Sebab di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa Tuhan hanyalah satu dan Dia adalah Allah, bukan Ahuramazda, Yozdan dan Ahriman” jawab tokoh kita sambil wajahnya berseri-seri karena ia merasa dapat mempertahankan kesucian al-Qur’an dengan ucapannya itu.

“Tuan! (Kata Zaranggi) Anda tidak dapat berdalil dengan ayat yang mengatakan bahwa Tuhan hanya satu itu, lalu Anda menutup kemungkinan bahwa Tuhan lebih dari satu.”

“Kenapa?” tanya sang tokoh sedikit heran.

“Sebab Anda sendiri tidak dapat membuktikan, kebenaran ayat itu Tuan, karena keterbatasan akal sebagaimana tadi Anda katakan. Dan mengenai al-Qur’an yang tidak bisa ditiru bukankah telah saya katakan bahwa hal itu hanya membuktikan bahwa al-Qur’an datang dari Tuhan. Karena ia mempunyai kekuatan yang tak bisa dijangkau manusia. Tapi tidak dapat dijadikan bukti akan adanya satu Tuhan.”

Pusing. Tokoh kita jadi pusing. ia tidak mengira sama sekali permasalahannya akan jadi sedemikian rumit. Bahkan belasan tahun ia belajar, tidak pernah menghadapi masalah seperti itu. Dan kitab yang dibawa oleh beberapa onta itu pun tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan Zaranggi ini. Yah maklumlah, tokoh kita ini selama belasan tahun hanya belajar di pusat ilmu pengetahuan dari kalangan yang mengharamkan akal dalam agama. Kasihan sekali. Akhirnya karena ia bingung, maka ia ganti bertanya.

“Apakah hal itu mungkin Tuan? Apakah mungkin salah satu di antara Tuhan Tuan menurunkan al-Qur’an dan ia merubah nama serta mengaku hanya sendirian?”

“Yah kalau hanya dari jawaban-jawaban Anda, hal itu mungkin saja Tuan. Apalagi Anda pernah suatu hari menjelaskan kepada kami bahwa seandainya ada dua Tuhan atau lebih, maka dunia ini akan hancur karena mereka akan bersaing. Yah…barangkali mereka bersaing khususnya yang satu ini, mungkin ia ingin mendapatkan pengaruh dari manusia, maka dari itu ia mengaku sendirian dan menurunkan al-Qur’an. Dan tiga Tuhan itu sebenarnya sekedar contoh, sesuai keyakinan kami. Akan tetapi barangkali sebenarnya Tuhan mungkin malah lebih dari itu.”

“Itu tidak mungkin Tuan” kata sang tokoh.

“Kenapa Tuan?” Zaranggi balik bertanya.

“Sebab kalau Tuhan yang satu itu bersaing dengan melakukan apa yang Anda katakan ini maka pastilah Tuhan yang lain tidak akan membiarkannya. Dan pasti akan timbul pertengkaran yang akan membawa kehancuran alam semesta ini Tuan.”

“Tuan! Bagi saya pertengkaran itu belum tentu membawa kehancuran. Sebab, Tuhan-Tuhan itu kan berkuasa untuk tidak membuat kehancuran. Lagi pula bisa saja Tuhan-Tuhan yang lain itu membiarkan tingkah Tuhan yang satu itu karena mereka tidak memerlukan pengaruh dari manusia, Tuan.”

“Ah… hal itu tidak mungkin Tuan (jawab tokoh kita), masa ada Tuhan begitu. Ada yang bikin masalah tapi ada pula yang mengalah.”

“Lho… kenapa tidak mungkin Tuan, apa alasannya?” Zaranggi berusaha mendesak.

“Sebab, Tuhan itu Maha Sempurna (kata sang tokoh), oleh karena itu tidak mungkin ada yang lebih bijak dari-Nya sehingga ada yang mengalah atas kelakuan-Nya; atau Tuhan itu Maha Suci, sehingga tak mungkin Tuhan itu akan saling berebut pengaruh; atau Tuhan itu Maha Berkuasa dan Kuat, sehingga tak mungkin ia membiarkan yang lain menganiayai-Nya.”

“Dari mana Anda tahu bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat semacam itu? Dan bukankah Anda sendiri yang mengatakan bahwa kalau ada lebih dari satu Tuhan akan timbul persaingan? Lagi pula kalau Anda boleh mengatakan bahwa Tuhan-Tuhan itu akan bersaing, mengapa saya tidak boleh mengatakan bahwa sebagian dari mereka ada yang mengalah? Bukankah yang saya katakan masih lebih baik dari apa yang Anda katakan, sebab masih ada sebagian yang lain yang masih mempunyai sifat kesempurnaan? Dan kalau saya salah dalam perkataan saya itu, apa yang Anda jadikan dalil untuk menyalahkan saya itu?” Zaranggi terus mendesak dan tokoh kita tak lagi mampu menjawab. Dia bahkan hanyut dalam lamunan.

Mentok! Tokoh kita semakin bingung. Kata-kata Zaranggi, sekilas, nampak lucu dan mengada-ada. Tapi… bagaimana menjawabnya (bisik sang tokoh dalam hati). Kalau dijawab bahwa dalilnya al-Qur’an, dalam hal ini al-Qur’an masih belum dapat dibuktikan kebenarannya. Dan justru sekarang ini dalam rangka membuktikan kebenaran al-Qur’an. Dan kalau dijawab semacam itu berarti untuk membuktikan kebenaran satu ayat perlu ditunjang dengan ayat yang lain yang masih akan dipertanyakan kebenarannya, dan akan begitu seterusnya sampai akhir ayat al-Qur’an. Memang… ia pernah mendengar golongan kaum muslimin yang membolehkan menggunakan akal dalam agama walaupun dalam batas-batas tertentu. Tapi dia tidak dapat memanfaatkan ilmu mereka, sebab ia tidak sealiran dan memang belum mempelajarinya. Walaupun ia telah berpuluh-puluh tahun belajar di pendidikan Islam.

Selagi sang tokoh melamun, Zaranggi nyeletuk lagi.

“Baiklah Tuan, katakanlah Tuhan Maha Sempurna, Suci dan Kuat sehingga tak ada yang lebih bijak atau lebih kuat. Tapi itu kan kalau dihubungkan dengan kita sebagai makhluk. Tapi kalau dihubungkan dengan sesama Tuhan bukankah hal itu mungkin-mungkin saja Tuan. Dan kalau tidak mungkin apa dalilnya? Atau bisa saja malah di antara sesama Tuhan tidak bertengkar. Bisa saja mereka bahkan hidup rukun dan bekerjasama dalam penciptaan. Sehingga dengan demikian tidak akan ada perselisihan seperti yang Anda katakan atau khawatirkan tadi. Sebab kalau kita saja suka kepada kerukunan apalagi Tuhan. Dan kalau Anda katakan ‘tidak mungkin’, karena Tuhan tidak boleh bekerjasama karena hal itu akan menunjukkan kekurangannya, apa dalilnya. Kita sesama makhluk bekerjasama, mengapa tidak mungkin sesama Tuhan bekerjasama? Bukankah hal itu tidak bisa dikatakan bahwa Tuhan bersifat seperti makhluk-Nya yang kekurangan? Sebab makhluk bekerjasama dengan makhluk dan minta tolong kepada Tuhan, tapi Tuhan bekerja sama dengan Tuhan dan mereka tidak perlu banTuan makhluk? Atau, katakanlah Tuhan mempunyai kesamaan sifat dengan makhluk, lalu kenapa? Misalnya Anda katakan bahwa Tuhan mempunyai sifat wujud, hidup. Bukankah kita juga hidup dan wujud?”

Waduh repot juga (pikir sang tokoh kita). Yang satu belum terjawab datang lagi berondongan pertanyaan yang tak kalah repotnya. Ingin ia mengusir Zaranggi atau meninggalkannya pergi atau bahkan mengajaknya berkelahi, tapi (ia pikir) apakah begitu seorang yang mengaku pembela Islam? Membela Islam dengan kekurangan dan kebodohannya? Ah… tidak… tidak… aku tidak boleh melakukannya.

Kini ia semakin sadar bahwa ilmunya tidak dapat dengan baik menolong orang lain yang ingin mengetahui Islam. Maka dari itu ia segera memutuskan untuk meminta maaf atas kekurangannya itu dengan ucapannya:

“Maaf Tuan Zaranggi, dalam hal ini saya tidak bisa menjawab.”

“Baiklah Tuan (kata Zaranggi) bolehkah saya menanyakan hal-hal yang lain? Dan saya minta maaf telah mendesak Anda. Tapi hal itu saya lakukan karena saya ingin mengetahui sejauh mana kebenaran Islam. Dan kalau memang terbukti benar tentu saja saya berniat memasukinya.”

“Yah… tidak apa-apa Tuan Zaranggi. Memang sudah semestinya Anda menanyakan sebelum Anda memasukinya. Saya kagum kepada ketelitian dan ketulusan Tuan. Bahkan sekali lagi saya minta maaf kepada Anda, karena saya tidak dapat banyak menolong Anda. Dan mengenai pertanyaan Anda, saya pikir silahkan saja, semoga saya dapat membantu Anda.”

“Terima kasih Tuan. Pertanyaan saya menyangkut dasar Islam yang lain. Yaitu hadits, sebagaimana Anda terangkan tadi” kata Zaranggi.

“Oh… silahkan saja!” sang tokoh mempersilahkan.

“Baik, terima kasih. Pertanyaan saya adalah siapa pengumpul kata-kata atau perbuatan Nabi itu Tuan? Apakah juga Utsman?”

“Oh! Tidak (jawab sang tokoh). Pengumpulnya banyak. Misalnya Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Nasai dan lain-lain.”

“Apakah mereka itu juga sahabat-sahabat besar Nabi Tuan?” Zaranggi bertanya sambil penuh perhatian.

“Bukan! (jawab tokoh kita ini). Mereka adalah orang-orang besar yang rata-rata lahir sekitar akhir atau setelah abad kedua setelah wafatnya Nabi.”

Setelah tokoh kita menjawab, dalam hatinya ada rasa keheranan. Karena ia melihat Zaranggi yang duduk di depannya mengerutkan alisnya. Pertanda ada sesuatu yang ia pikirkan atau ada sesuatu yang ia anggap aneh lagi. Tapi apa ya? (pikirnya).

Setelah Zaranggi manggut-manggut sejenak, ia meneruskan pertanyaannya.

“Bagaimana caranya mereka menuliskan Tuan. Bukankah jarak mereka dengan Nabi Anda sangat jauh?”

Tokoh kita tersenyum, karena ia sudah memperkirakan pertanyaan Zaranggi itu dan ia sudah pula mempersiapkan jawabannya. Maka langsung saja ia menjawab tanpa ia sadari bahwa ia akan terjepit lagi.

“Mereka itu menulis dari orang-orang yang pernah mendengar suatu hadits melalui orang-orang lain, sampai kepada Nabi.” jawabnya.

“Sampai berapa orang kira-kira, sehingga menyambung kepada Nabi?” tanya Zaranggi.

“Yah… bisa lima atau lebih” jawab sang tokoh yang masih belum menyadari bahwa ia akan terjepit lagi.

“Apakah mereka dapat dipercaya Tuan?” Zaranggi mulai mempermasalahkan keabsahan salah satu dasar agama Islam.

“Oh… dapat, dapat. Mereka itu dapat dipercaya. Mereka diteliti melalui sejarah. Yah…yang memang terbukti tidak dapat dipercaya atau bukan orang-orang yang shaleh, haditsnya akan digugurkan” kata sang tokoh meyakinkan Zaranggi.

Tapi dasar Zaranggi orang kafir, maka ia tidak terikat dengan ini dan itu. Maka ia tanyakan apa saja yang ingin ia tanyakan. Dan sudah tentu dengan bahasa yang polos. Maka ia bertanya sambil mulai mendesak tokoh kita lagi.

“Tuan! (katanya) kalau demikian halnya maka agama Tuan yang Anda pahami dan bawa ini belum tentu benar (relatif).”

“Kenapa begitu?” Tokoh kita mulai penasaran.

“Hal itu ada beberapa alasan. Pertama, dalam mempercayai seseorang, setiap satu orang di antara kita akan timbul perbedaan (relatifitas). Bisa saja sekelompok orang percaya terhadap seseorang, tapi kelompok yang lain mendustakannya. Dan saya pikir hal itu wajar. Artinya, bukanlah suatu keanehan kalau dalam mempercayai seseorang ada perbedaan. Kedua, keshalehan seseorang, tidak dapat diketahui oleh orang lain. Karena, seperti yang Tuan jelaskan, masalah hati tidak dapat kita pantau. Jadi bisa saja seseorang dianggap shaleh bagi sebagian orang, dan tidak bagi sebagian yang lain. Yah… masih relatif juga. Ketiga, Anda mengatakan bahwa orang-orang munafik ada. Sebagian mereka memang diketahui sehingga bisa kita pantau melalui penulisan sejarah. Akan tetapi sesuai dengan yang Anda jelaskan kepada saya tadi, dalam al-Qur’an mengisyaratkan adanya orang-orang munafik yang mereka tinggal di desa-desa dan juga di kota serta di sekitar Nabi, yang tidak diketahui oleh Nabi sekalipun. Lalu bagaimana kalau hadits-hadits itu datang dari mereka?”

Kasihan, tokoh kita ini mulai bingung lagi. Tapi karena ia yakin bahwa Islam harus dibela, maka ia berusaha menjawabnya, walaupun sebenarnya ia tidak sadar bahwa Islam tidak serakah terhadap pembelaan. ia hanya mau dibela dengan pembelaan yang Islamis pula. Tidak dengan pembelaan yang tidak Islamis.

 

 

[bersambung…]

3 thoughts on “Zaranggi [Part. II]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s