Perspektif Rahbar

Tanda-Tanda Kehancuran Liberalisme Barat

 

 

 

Krisis ekonomi di AS dan Eropa terus berlanjut dan para pemimpin Barat berjuang keras mengatasinya. Di tengah kondisi seperti ini, sejum-lah pakar berpendapat bahwa akar krisis global ini pasti bermuara dari prinsip-prinsip liberalisme Barat. Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatollah Al-Udzma Ali Khamenei sejak jauh hari, memprediksikan kehancuran ideologi kapitalis ini. Dalam pidato-nya yang disampaikan belum lama ini, Rahbar menilai krisis ekonomi Barat sebagai bukti dekadensi ideologi liberal demokrasi. Pernyataan Rahbar ini sama seperti prediksi Imam Khomeini ra mengenai ideologi komunisme sebelum runtuhnya Uni Soviet. Beliau dalam suratnya kepada Gorbachev, pemimpin Uni Soviet saat itu, selain memprediksikan kehancuran ideologi Komunisme, mengatakan, “Jika Marxisme di bidang ekonomi dan sosial kini dihadapkan pada jalan buntu, Barat pun akan menghadapi problema dalam masalah ini, tapi dengan bentuk yang berbeda.”

Komunisme dan liberalisme masing-masing adalah ideologi kapitalis yang berkembang di Barat. Kedua ideologi tersebut bisa dikatakan sebagai rival utama agama-agama di dunia yang berlandaskan pada spritual yang berkembang di Timur. Terlebih agama Islam yang merupakan agama paling menonjol dibanding agama-agama lainnya. Terkait masa depan Marxisme, Rahbar mengatakan, ” “Ideologi ini saat itu mempunyai sederet klaim dan slogan yang secara bertahap memudar dan pada akhirnya bertahan seperti sarang laba-laba dan kemudian hancur dalam kurun waktu yang singkat.” Rahbar juga menyinggung mimpi para pendukung liberalisme dan mengatakan, “Mereka berpikir bahwa pemikiran liberal demokrasi akan berkuasa penuh di seluruh dunia, dan negara-negara adidaya Barat dengan mudah dapat menerapkan politik penjajahan dan hegemoninya terhadap negara-negara di dunia. Namun, kekuatan yang mengarah perkembangan Islam dan kebangkitan agama ini memperlihatkan kepada para pendukung Barat bahwa telah muncul sebuah rival baru dan kekuatan tangguh di kancah internasional.

Liberalisme sama seperti Marxisme yang keduanya merupakan buatan manusia. Otak manusia pun mempunyai keterbatasan dan kekurangan. Dengan demikian, liberalisme dihadapkan pada kelemahan. Untuk itu, sederet kekurangan dan dampak sistem liberalisme kini dapat disaksikan pada negara-negara yang berkiblat pada ideologi liberal demokrasi. Seraya menyinggung krisis ekonomi global dan ketidakefektifan ekonomi Barat, Rahbar menuturkan, “Kini, gelembung fiktif keuangan di dunia Barat telah pecah yang suaranya terdengar melengking ke langit. Mereka sendiri menyatakan bahwa periode kekuasaan absolut AS telah berakhir.”

Selain problema ekonomi, liberalisme Barat selama bartahun-tahun menunjukkan identitas sebenarnya. Negara-negara pengikut liberal demokrasi senantiasa bersanding dengan para pemimpin yang haus darah, arogan dan pelanggar hak-hak asasi manusia. Selain Perang Dunia I dan II dan perang-perang lainnya, Barat yang membanggakan liberalismenya, menggelar perang di Irak dan Afghanistan yang dapat dikatakan sebagai kejahatan baru di dunia. Terkait hal ini, Rahbar mengatakan, “Hegemoni dan pendudukan merupakan produk terbaru liberal demokrasi Barat. Melalui cara-cara arogan dan hukum rimba, Barat menciptakan pertumpahan darah di dua negara muslim, Irak dan Afghanistan. Inilah puncak kehancuran liberal demokrasi dengan sederet klaim infaktualnya. Bahkan mereka tidak mempedulikan penentangan opini umum dunia. Bagi Barat, kemanusiaan dan kehendak masyarakat tidaklah bernilai.”

Penentangan opini dunia atas langkah-langkah tidak manusiawi Barat yang juga mengklaim sebagai pendukung demokrasi dan pelindung hak-hak asasi manusia, merupakan kontradiksi lain yang tercermin dalam ideologi liberal demokrasi. Terkait hal ini, Rahbar mengatakan, “Kini, liberal demokrasi di tengah opini umum dunia dihadapkan pada penentangan yang semakin meningkat. Dengan meningkatnya kebencian masyarakat dunia atas AS, negara ini dihadapkan pada kekalahan politik telak dan keterkucilan di dunia.” Rahbar juga menyebut dukungan terhadap Rezim Zionis Israel sebagai kebobrokan lain negara-negara pendukung ideologi liberalisme, khususnya AS yang terus diprotes oleh masyarakat dunia. Selain itu, penyiksaan terhadap para tahanan di Abu Ghraib, Guantanamo, dan penjara-penjara rahasia AS lainnya dapat dikatakan sebagai brutalitas lain para pejabat Washington.

Sederet kritikan prinsip atas liberalisme merupakan bukti ekstrimisme ideologi ini yang terlalu mengagungkan materi serta mengabaikan nilai spritual dan keadilan. Rahbar menyebut nihilnya spritual sebagai penyebab kebobrokan liberal demokrasi. Mengenai keadilan dan etika liberalisme, Rahbar menuturkan, kehampaan besar di dunia liberal demokrasi terletak pada pembangunan industri dan pengembangan teknologi dalam skala luas yang tidak diimbangi oleh keadilan sosial. Moral pun dihadapkan pada dekadensi. Kini, krisis moral menjerat liberal demokrasi. Krisis moral, ekonomi dan krisis keluarga adalah serangkaian problema yang menghadang negara-negara yang maju di bidang teknologi dan sains.

Liberal demokrasi Barat tengah meluncur ke arah kehancuran. Sementara Islam tengah meniti tangga kejayaannya di kancah internasional. Untuk itu, para politisi dan sejumlah media massa Barat berupaya menyudutkan Islam dan menistakan nilai-nilal sakral agama ini. Dengan cara itu, mereka berharap dapat mencegah perluasan agama Islam di dunia. Rahbar mengatakan, “Islam merupakan ideologi yang mendukung nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan persaudaraan. Bahkan dalam agama ini, orang yang papa dapat mengambil haknya dari orang yang kuat. Inilah pesan Islam yang sebenarnya. Kini, pesan seperti inilah yang membuat bangsa-bangsa tertarik terhadap agama ini.”

Secara umum, pondasi pemikiran Islam adalah spritual. Akan tetapi dari satu sisi, agama ini tetap memperhatikan sisi materi. Pada intinya, Islam seperti yang ditekankan Rahbar, menyatakan bahwa kebebasan sebenarnya tercermin dalam penghambaan seseorang kepada Allah swt. Bahkan Islam memberikan hak memilih bagi manusia untuk menentukan jalannya. Rahbar mengatakan, “Kebahagiaan manusia bukan terletak pada kemajuan teknologi dan sains. Akan tetapi, sains dan teknologi merupakan salah satu sarana kebahagian. Kebahagiaan manusia yang sebenarnya terletak pada ketenteraman hati dan ketenangan pikiran. Kenyamanan kehidupan harus dibarengi dengan keamanan moral, spritual dan materi. Kebahagiaan seseorang adalah ketika ia merasakan keadilan di tengah masyarakat. Inilah yang tidak dimiliki oleh Barat.” [IRIB]

3 thoughts on “Perspektif Rahbar

  1. salam… tulisan-tulian di blog ini saya ambil dari tulisan ulama-ulama rujukan saya. semoga bermanfaat bagi kita semua.

    salam juga buat keluargamu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s