Ayatullah Muhammad Taqi Mishbah Yazdi

Muhammad Taqi Mishbah Yazdi adalah murid Imam Khomeini dan ‘Allamah Thabathaba’i. Pakar di bidang tafsir al-Qur’an dan filsafat ini telah menghasilkan banyak buku, yang paling penting diantaranya adalah: 8 jilid The Teaching of the Qur’an.

KOMENTAR PARA ULAMA


Imam Khomeini: 

“Muhammad Taqi Mishbah Yazdi sama besarnya dengan sahabat yang bernama Dzu asy-Syahadatain.”

‘Allamah Thabathaba’i:

“Di tengan para ulama lain, Mishbah laksana buah Tin yang tak seorang pun tidak membutuhkannya.”

Imam Ali Khamenei:

“Sejak empat tahun puluh yang lalu saya telah mengenalnya dan mencitainya. Saya telah mengenalnya sebagai seorang fakih filosof, intelektual, dan shahib nadzar dalam masalah-masalah keislaman.

Generasi saat ini yang tidak mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu dari pribadi-pribadi besar seperti Syahid Muthahhari dan ‘Allamah Thabathaba’i, dengan inayah Allah, mereka dapat menggalinya dari Aytaullah Mishbah yang telah mengisi kekosongan tersebut.

Saya bersyukur kepada Allah dan memuji-Nya, karena seluruh generasi muda saat ini di seantero negeri sangat menaruh perhatian kepada Ayatullah Mishbah dan menghargainya dengan selayaknya.

Menurut saya yang sangat berpengaruh [efektif] di dalam hal ini adalah memahami isi dan kandungan al-Qur’an dengan benar, dengan memanfaatkan karya-karya Syahid Muthahhari dan para ulama kontemporer seperti Ayatullah Mishbah dan lainnya yang memilki pemahaman yang sempurna dan benar tentang dasar-dasar ajaran Islam. Dan kalian pun dapat menyampaikannya dengan metode yang mudah dan [bahasa] sederhana.”

 

KELAHIRANNYA


Muhammad Taqi Mishbah Yazdi lahir di kota Yazd, Iran, pada tanggal 11 Bahman 1313 H.S, bertepatan dengan 17 Rabiul Awwal 1353 H [1914 M] dalam lingkungan keluarga yang sangat taat beragama. Ayah dan ibunya berada dalam situsai ekonomi yang sangat sulit di rumah warisan dari neneknya. Demi kelangsungan hidup keluarga, setiap hari ibunya menyulam kaus kaki untuk dijual oleh ayahnya di sebuah took. Usaha ini tentu tidak memberikan pemasukan yang berarti. Karena itulah, ayahnya terpaksa meminjam sejumlah uang agar bisa melanjutkan roda pekerjaan kembali.

 

PENDIDIKANNYA


Pada usia tujuh tahun, Muhammad Taqi Mishbah Yazdi mulai memasuki pendidikan dasar dan menyelesaikannya pada tahun 1947 M dengan menyandang predikat sebagai pelajar teladan. Kemudian, beliau melanjutkan pendidikannya di Hauzah Ilmiyyah Yazd, di bawah bimbingan Syaikh Muhammad Ali Nahwi. Pendidikan dasar hauzah beliau tamatkan dalam waktu empat tahun hingga selesai membaca Kitab Rasa’il dan Manaqib. Dengan dukungan keluarganya, beliau melanjutkan pendidikan ke Najaf Asyraf pada tahun 1952. Namun akibat problem finansial setahun kemudian beliau hijrah ke kota Qom.

Setelah usia beliau mencapai 20 tahun dan memenuhi syarat diterima sebagai pelajar agama [thalabeh] di Madrasah Hojjatiyeh, beliau mulai berkenalan secara pribadi dengan para ulama besar seperti Imam Khomeini, ‘Allamah Thabathaba’i dan Ayatullah Bahjat.

Beliau mengikuti kuliah-kuliah irfan dan politik Imam Khomeini, dan mempelajari tafsir al-Quran, asy-Syifa’ karya Ibn Sina, dan al-Asfar al-Arba’ah karya Mulla Shadra di bawah bimbingan ‘Allamah Thabathaba’i. beliau juga mengikuti kuliah fiqih Ayatullah Bahjat selama 15 tahun.

Dengan menghadiri  pelajaran tafsir dan filsafat ‘Allamah Thabathaba’i, beliau tidak hanya menimba ilmu dari ‘Allamah, tetapi juga menjalin hubungan spiritual-akhlaki tersendiri dengan ‘Allamah. Begitu pula dengan Ayatullah Anshari dan Ayatullah Bahjat.

 

PANDANGAN-PANDANGANNYA


Pandangan-pandangan filsafat Ayatullah Muhammad Taqi Mishbah Yazdi yang berbeda dengan Shadraisme meliputi:

1. Ontologi. Antara lain beranggapan bahwa gradasi wujud [tasykik al-wujud] hanya bersifat vertikal [thuli], karena gradualitas dalam wujud hanya dapat diinterpretasi secara kausal; sedangkan pada gradasi horizontal [at-tasykik al-‘aradhi] tidak terdapat relasi kausalitas, berpendapat bahwa analisis prinsip kausalitas merupakan dalil shahih atas keniscayaan wujud rabith, menolak gagasan as-basith [koherensi] dengan kaidah al-wahid la yashduru minhu illa al-wahid; beranggapan bahwa al-jahwariyah bisa bersifat nuzuliyah [menurun]; menolak al-uqul al-‘asyrah [sepuluh intelek abstrak], sebagaimana pendapat al-Farabi, karena menurutnya, itu adalah warisan kosmologi Yunani Kuno, yang semestinya dipisahkan dari ontology dan teologi.

2. Logika. Antara lain berpendapat bahwa berdalil dengan menganalisis proposisi tidaklah valid, karena pembahasan tentang proposisi berada dalam lingkup logika [manthiq] serta tidak berkaitan dengan realitas objektif.

3. Epistemologi. Antara lain berpendapat bahwa epistemologi adalah pintu pengetahuan filsafat, dan bahwa ilmu hudhuri mesti dipisahkan dari tema-tema filsafat; dan mendukung pendapat Mulla Hadi Sabzewari yang menolak definisi Mulla Shadra tentang al-‘ilm sebagai hudhur mujarrab lada mujarrad, karena menurutnya, pengetahuan sesuatu yang memiliki eksistensi termulia [Tuhan] bisa mengenali entitas-entitas non-abstrak secara langsung, tanpa perantara entitas-entitas abstrak lainnya.

4. Kosmologi. Antara lain menolak pendapat Mulla Shadra dan ‘Allamah Thabathaba’i tentang hyle [hayula], karena, menurutnya, selain mitos yang tersisipkan dalam filsafat, ia juga meniscayakan kontradiksi.

5. Antropologi Filosofis. Antara lain, ia meletakkan egoisme sebagai elemen fitriyah utama dalam diri manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s