Hubungan Antara Kemampuan dan Kehendak

Oleh: Ayatullah M.T. Mishbâh Yazdî

Ketika mengatakan bahwa Tuhan dapat melakukan sesuatu, kita maksudkan bahwa jika menghendaki, Dia akan melakukannya, dan jika tidak, Dia tidak akan melakukannya. Jadi ketika membandingkan konsep kemampuan dengan konsep kehendak, kita menyadari bahwa segala kehendak lebih terbatas dibandingkan segala kemampuan.

Sebuah contoh sederhana: Anda dapat berbicara atau tetap diam pada suatu saat, artinya, Anda memiliki kemampuan untuk melakukan keduanya. Jika ingin berbicara, Anda akan berbicara dan jika tidak ingin berbicara, Anda akan tetap diam. Jadi, kekuatan Anda meliputi keduanya. Namun yang manakah yang akan Anda kehendaki? Anda menghendaki salah satu darinya. Anda menghendaki, baik untuk berbicara maupun tetap diam. Jadi, kekuatan Anda lebih luas daripada kehendak Anda, karena kemampuan meliputi, baik aksi maupun nonaksi, sementara kehendak hanya meliputi salah satu dari keduanya, baik aksi maupun nonaksi. Seseorang memmiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukannya pada waktu yang bersamaaa, tetapi dia tidak dapat menghendaki eksistensi dan noneksistensi dari sesuatu pada waktu yang sama. Jadi, jika membandingkan kemampuan dan kehendak, kita menyadari bahwa jangkauan kehendak lebih terbatas daripada jangkauan kemampuan.

Demikian juga, Tuhan tidak menghendaki semua yang dapat saja dilakukan-Nya. Pelbagai hal dapat dilakukan-Nya, tetapi Dia tidak ingin melaukannya. Di sini orang mungkin bertanya, apa yang membatasi kehendak Tuhan, sehingga dia tidak menghendaki segala sesuatu? Kadang kala terjadi bahwa kehendak tidak ada hubungannya dengan melakukan atau tidak melakukan perbuatan, karena alasan sederhana, bahwa meletakkan dua hal ini secara bersamaan akan menyebabkan kontradiksi dan sebuah kemustahilan, seperti menghendaki eksistensi matahari dan tidak adanya matahari pada waktu yang sama. Jelaslah bahwa hal seperti itu mustahil terjadi. Namun terdapat hal-hal lain yang, meskipun tidak mustahil, tidak Tuhan kehendaki. Mengapa? Apa yang menghalangi kehendak Tuhan dari menghendaki hal-hal tertentu?

Barangkali Anda pernah mendengar bahwa sebagian ilmuwan teologi mengatakan bahwa “Timbulnya perbuatan buruk dari Tuhan adalah mustahil” Hal ini tepat seperti apa yang telah kita katakan. Namun, pertanyaan pokoknya adalah “Apakah Tuhan tidak mampu menghasilkan perbuatan yang buruk?” Kita mengetahui bahwa kemampuan-Nya adalah tidak terbatas, dan bahwa Dia dapat melakukan apapun yang mungkin dilakukan. Namun tidak semua yang berada dalam kemampuannnya dikehendaki. Kehendak Tuhan tidak meliputi hal-hal tertentu. Dia tidak ingin melakukan perbuatan- perbuatan tertentu. Dia tidak ingin memasukkan orang yang melakukan kejahatan ke dalam surga. Mengapa? Jika  Dia melakukannya, apa yang akan terjadi? Mengapa kehendak Tuhan tidak meliputi perbuatan ini? Banyak hal lain yang tidak dikehendaki oleh Tuhan.

Jawaban sederhana yang dikemukakan sehubungan dengan hal ini adalh bahwa akal mengatakan perbuatan ini jahat, karenanya, Tuhan tidak ingin melakukan dan tidak menghendakinya. Tentu saja, tujuan yang nyata dapat muncul di sini: Apakah Tuhan menerima perintah dari akal? Akal merupakan salah satu makhluk-Nya; Apakah Dia menciptakannnya untuk mengeluarkan perintah kepadaNya, dan menulisksan daftar perintah kepadaNya?

Apakah Akal Menguasai Tuhan?

Sebagian orang mengatakan bahwa, dengan maksud menghentikan permasalahan ini, akal yang kita maksudkan bukan akal manusia, melainkan akal Tuhan sendiri yang memberitahunya untuk tidak melakukan hal yang tidak Dia kehendaki. Jadi Dia tidak dikuasai oleh makhluk ciptaan, tetapi oleh pikirannya sendiri. Jawaban ini dapat, hingga beerapa derajat, diterima oleh orang awam dan tampak meyakinkan. Namun, pada pemikiran yang lebih dalam, kita menyadari bahwa itu bukanlah jawaban yang tepat, pertama karena Tuhan adalah Zat yang sederhana yang di dalamnya tidak terdapat entitas yang disebut pikiran sehingga entitas lain dapat mematuhinya.

Pengetahuan, kekuatan, hidup dan semua Sifat Zat lainnya adalah Esensi-Nya juga zat tunggal dan sederhana dengan satu entitas tunggal saja. Namun, mengatakan bahwa pikirn Tuhan mengeluarkan perintah kepada-Nya akan berarti bahwa ada dua entitas dalam ZatNya: pikiran yang memerintah dan pikiran yang mematuhinya, sementara hal semacam itu mustahil terjadi terhadap Tuhan.

Selanjutnya, fungsi pikiran adalah untuk memahami konsep melalui pemerolehan pengetahuan. Pikiran yang memahami baik dan buruk, dan memerintahkan apa yang harus dilakukan dan yang tidak, adalah sebuah pikiran yang memahami konsep, dan konsep tersebut adalah konsep pengetahuan yang diperoleh, sementara pengetahuan Tuhan adalah intuitif, bukan pengetahuan yang diperoleh. Dengan kata lain, menggunakan kata “pikiran” sehubungan dengan Tuhan adalah sebuah kesalahan. Lalu, apa yang harus kita katakan?

Apakah maksudnya mengatakan bahwa perbuatan yang tidak disetujui oleh pikiran, mustahil dilakukan oleh Tuhan? Itu tidak berarti bahwa perbuatan itu sendiri mustahil, dan tidak berarti bahwa ada pengatur yang perintahnya harus dipatuhi oleh Tuhan, tidak juga bahwa ada kekuatan yang menghentikan perbuatan tersebut, karena dalam kasus tersebut, Tuhan akan diperngaruhi oleh faktor yang menghalangi perbuatanNya, mencegahnya dari berkehendak. Apapun faktor yang mungkin ada, itu berarti bahwa Tuhan berada di bawah pengaruh faktor tersebut, padahal Tuhan adalah Zat yang mustahil berada di bawah pengaruh dari pengaruh apapun. Sesungguhnya, Dialah yang memiliki pengaruh terhadap segala sesuatu, dan tidak akan pernah dipengaruhi.

Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kita harus mengkaji “kehendak”. Apa artinya mengatakan bahwa seseorang “berkehendak” melakukan sesuatu? Ketika ingin melakukan sesuatu perbuatan, bagaimana kita mengkehendakinya? Di dalam diri kita terdapat faktor-faktor yang menarik kita. Mereka mengkristal melalui keinginan kita dan berubah menjadi bentuk khusus, seperti keinginan untuk makan, berbicara, penegasan diri, dan pelbagai keinginan lainnya yang dikenal oleh manusia. Keinginan dan kecenderungan ini mengambil bentuk dalam kondisi dan interaksi material tertentu. Ketiak merasa lapar, sebuah keinginan kuat pada makanan muncul dalam diri kita. Hal yang bersama berlaku untuk keinginan2 kita yang lain yang berkaitan dengan pelbagai naluri kit ayang lain. Ketika keinginan mulai memasuki diri kita, kita memikirkannya untuk melihat apakah ada sesuatu yang mencegah kita dari memenuhinya dan bahwa ia tidak merugikan kita, di dunia ini atau pada hari akhir, baru setelah itu keinginan tersebut dapat dipuaskan. Dengan cara ini, kehendak kita dilaksnakan. Jadi, hakikat kehendak adalah keinginan batin yang terkristalkan, dalam kondisi teretentu, disertai oleh cara pemikiran biasa, dengan mengetahui kerugian dan keuntungannya, sisi baik dan jeleknya, dan lain. Dengan mengetahui bahwa ia menguntungkan dan tidak berbahaya, atau kerugiannya lebih kecil dari manfaatnya, ia mengambil bentuk menjadi keinginan yang membimbing pada pelaksnaannya. Jadi, mustahil terdapat kehendak tanpa adanya keinginan yang diharapkan oleh yang berkehendak.

Di dalam diri setiap wujud terdapat keinginan tertentu yang menyebabkan keinginan untuk memenuhinya. Misalnya, seekor ayam betina tidak berkehendak untuk melahirkan bayi2 dan tidak pernah memikirkan tentangnya [tentu saja, kita tidak mempunyai pengetahuan tentang pikiran seekor ayam, tapi hanya memperkirakan], atau burung pipit yang membangun sarangnya yang menempel pada atap atau di dekatnya, di koridor, dengan bentuk2 teretentu, tetapi tidak pernah berbentuk segi enam, bertentangan dengan lebah yang membangun sarangnya dengan bentuk segi enam.

Naluri khusus dalam makhluk2 ini muncul, di bawah kondisi tertentu dalam bentuk sebuah hasrat dan berakhir dalam pelaksanaan perbuatan. Kehendak kita juga berasal dari hasrat yang ada dalam batin kita, yaitu sesuai dengan keberadaan dan watak kejiwaan kita. Ada makhluk-makhluk yang hidup dengan makanan tertentu yang kita tidak pernah berhasrat mendapatkannya, bahkan, kita merasakan tolakan pada saat melihat makanan semacam itu untuk dimakan. Anda mungkin telah melihat babi-babi yang memakan kotorannya dan tidak menyukai makanan, dengan nafsu makan yang besar sedemikian rupa sehingga sangat menjijikkan bagi kita. Sebagian binatang lainnya merasakan bahwa sangat lezat memakan makanan yang busuk dan berbau tidak sedap.

Seandainya mengenal bahasa mereka, kita akan mendengar nada bibir mereka, yang mengatakan, “Betapa Lezatnya Makanan Ini!” sebaliknya, kita dipenuhi rasa muak melihat pemandangan tersebut. Kita tidak pernah berharap mendapatkan makanan seperti itu, meskipun makanan itu cocok dengan hewan2 tersebut. Mengapa kita tidak pernah berkehendak memakan makanan yang busuk, kotor,  dan berbau tidak sedap, tidak juga melakukan perbuatan yang memalukan dan tercela? Karena ia tidak berada dalam keselarasan dengan wujud kita. Naluri kita tidak tertarik pada perbuatan-perbuatan semacam itu. Ada sebuah kehendak ketika ada dorongan, meskipun dorongan ini masih tetap samar-samar hingga kondisi tertentu diperoleh dan kehendak tersebut muncul. Jika merasa tidak ada kecenderungan terhadap sesuatu, kit tidak akan melakukannya, hal yang sama adalah kita tidak pernah berkehendak untuk berbagi makanan dengan seekor babi.

Faktor Kehendak yang Sesuai

Oleh karena itu, tidak ada kehendak yang terjadi tanpa sebuah persiapan dan penyebab. Kehendak memiliki unsur naluriah, daya tarik batin, yang, dibawah kondisi tertentu, mengambil bentuk dan berubah menjadi sebuah hasrat, yang menyebabkan kita berkehendak melakukan sesuatu.

Secara singkat, tidak ada kehendak yang mungkin dilakukan tanpa adanya kesesuaian antara perbuatan tersebut dan pelakunya. Harus ada semacam kecocokan antara yang berkehendak dan sesuatu yang dia kehendaki. Kecocokan ini timbul dalam bentuk kecenderungan, yang, pada gilirannnya dan pada kondisi tertentu, berubah menjadi sebuah kehendak. Namun, sehubungan dengan Tuhan ketika kita mengatakan bahwa Dia, yang Mahaagung, berkehendak melakukan sesuatu, perbuatan tersebut harus pantas dilakukan olehNya. Namun, bukan berarti bahwa pertama-tama harus ada kecenderungan dalam diriNya, kemudian ia menjadi semakin kuat hingga menjadi hasrat, kemudian Dia mempertimbangkannya untuk menganggapnya sebaiknya dilakukan atau tidak, karena metode semacam ini menjadi milik sesuatu yang mungkin—sesuatu yang kurang informasi, lemah, miskin, dan lain-lain. Tuhan tidak dipengaruhi oleh kejadian-kejadian dan faktor-faktor dari luar, atau dibawah pelbagai pengaruh, atau ketidak tahuan, sedemikian rupa sehingga Dia mungkin ingin memahami sesuatu dengan cara memikirkannnya. Gagasan ini tidak tepat sehubunagn dengan Tuhan.

Kehendak Tuhan dihubungkan dengan perbuatan yang sesuai dan cocok denganNya—sebuah kenyataan yang merupakan aspek kesempurnaanNya, artinya pelbagai kenyataan yang sempurna adalah aspek Kesempurnaan Mutlak Tuhan, karena Dia adalah Zat Sempurna Yang Tidak Terbatas. Segala sesuatu yang memiliki aspek kesempurnaan sebanding dengan Zat Tuhan, dna memperoleh keridhoaanNya dalam proporsi terhadap sejumlah kesempunaannya. Namun, mengenai aspek-aspek ketidaksempurnaan, kesalahan, cacat, sifat buruk, dan ketiadaan [yang seluruhnya sesungguhnya berasal dari ketiadaan], disebabkan oleh keberadaan mereka yang demikian, tidka dikehendaki oleh Tuhan. Tuhan adalah sempurna, menyukai kesempurnaan, dan KehendakNya termasuk sesuatu yang memiliki aspek kesempurnaan. Tuhan tidak menyukai perbuatan buruk, dengan demikian, KehendakNya tidak pernah menyangkut perbuatan buruk. Mengapa? Karena hal itu  tidak sesuai denganNya. Jawaban in imembuatnya jelas, mengapa Tuhan tidak berkehendak melakukan sesuatu. Hal ini karena sesuatu tersebut tidak memiliki aspek kesempurnaan. Jika memiliki aspek kesempurnaan, hal itu mungkin, disebabkan aspek tersebut, suatu perbuatan dikehendaki oleh Tuhan.[]

One thought on “Hubungan Antara Kemampuan dan Kehendak

  1. Menarik…. sebuah proses pengenalan Tuhan yang sederhana dan sangat mengena. sebuah perspektif yang jauh melampaui pikiran kami yang awam.
    syukran atas pencerahan ini…
    salam alaika YM Ayatullah Mishbah Yazdi.
    salam untuk pemilik blog.
    Rabbi shali ala muhammad wa ali muhammad.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s