Alam Ada Dengan Sendirinya!!!

Konon ada sebuah cerita tentang sebuah diskusi yang diadakan oleh seorang tokoh muslim dengan sekelompok orang non-muslim. Mereka telah saling sepakat untuk berjumpa pada suatu hari dan pada satu tempat tertentu. Begitu hari dan waktu yang ditentukan tiba, orang-orang non-muslim segera berkumpul di tempat yang sudah ditentukan itu. Mereka-orang-orang non-muslim-telah berhari-hari telah menyiapkan diri untuk menghadapi dialog yang sudah tiba itu. Mereka menunggu dengan perasaan berdebar-debar dan sedikit tegang. Namun, perasaan itu tidak terobati karena yang mereka tunggu untuk dihujat tidak kunjung datang. Lama nian mereka menunggu. Rupanya salah satu dari mereka sudah tak tahan menunggu, dan ia pun berkata dengan kesalnya, “Apakah ini merupakan kebiasaan dari orang-orang kotor yang tak berakal itu. Yang biasa membuang-buang waktu untuk tidur dan menangis?” Rupanya gerutu tadi memancing marah orang yang duduk di dekat orang yang menggerutu. Ia pun berkata dengan lantang; “Sungguh ia merupakan tipu daya. Rupanya orang yang selalu mengada-ngada itu merasa tidak sanggup mempengaruhi kita, orang- orang yang berakal, yang tidak seperti orang- orang lain yang kotor yang bodoh sebagaimana dia pengaruhi selama ini.”

Rupanya kedua orang itu betul-betul memancing kemarahan para hadirin yang memang sudah kesal. Dan tentu saja sasarannya adalah sang tokoh muslim yang mereka tunggu. Benar saja, sebentar kemudian situasi dalam ruangan pendopo yang mereka pakai itu dipenuhi kata-kata umpatan dan ejekan. Bahkan sebagian sudah bersiap-siap meninggalkan ruangan karena sudah terlalu lama menunggu. Tapi sekonyong- konyong umpatan dan keributan itu berhenti ketika melihat sesosok tubuh mendekati mereka dan memasuki ruangan pendopo, tempat mereka berkumpul.

Tapi kesunyian itu mirip kesunyian para pelomba lari yang sedang menunggu bunyi tembakan yang hendak lari mendului yang lainnya. Tanpa dikomandi secara serempak mereka berkata, “Hai pembohong… pembohong…” orang yang rambutnya sudah hampir memutih semua, yang duduk di kursi depan, dari tadi memang tampak lebih sabar dari yang lainnya. Rupanya ia adalah pemuka yang dihormati dikalangan orang- orang non-muslim itu. Karena dia khawatir akan semakin menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, maka segera berdiri dan menenangkan para hadirin. Memang tampak berwibawa sehingga orang-orang tampak kembali senyap dan duduk di kursi masing-masing. Si pemuka itu menoleh kepada orang yang baru datang itu-yang memang orang yang mereka tunggu-setelah berhasil menertibkan kegaduhan di pendopo.

Berkata si tua tadi, “Hai orang muslim! Engkau bukan menghadapi orang-orang konyol semacammu. Orang-orang yang tidka beradab dan berakal serta tidak menghormati waktu. Sungguh kami sangat sedih dan kesal menunggu kedatangan Anda yang ternyata telah membuang-buang waktu kami yang sangat berharga. Kami harap ajaran Anda yang satu ini jangan sekali-kali diterapkan ditengah-tengah kami. Sebab kami adalah orang-orang yang menghormati waktu dalam hidup kami.”

Si muslim menjawab, “Sodara-sodara sekalian, kami juga merasa sedih dengan kejadian ini. Kenapa harus terjadi. Keterlambatan dan tidka tepat janji adalah suatu yang sangat dicela dalam ajaran kami,  yaitu Islam.”

Hampir serentak dibarengi gelak tawa, para hadirin mencemooh, “Bohong, bohong…”

Rupanya pak tua tadi agak naik pitam. Lalu dia nyeloteh; “Bagaimana anda dapat mengatakan hal itu, sedang yang demikian itu banyak diragukan oleh orang-orang muslim. Dan yang sangat mengherankan adalah anda sendiri termasuk pelakunya.”

Perkataan disambut gelak tawa para hadirin yang memang merasa berada di atas angin.

“Saudara-saudara [jawab si muslim], anda sekalian hanya dapat menjumpainya pada amalan sebagian muslimin, bukan pada ajaran islam. Mereka yang dengan sengaja melakukan itu akan mendapat celaan dan dosa. Sungguh perbuatan mereka disamping merugikan mereka sendiri juga merugikan agama mereka. Karena orang-orang yang bukan muslim yang pendek penalarannya akan mengira bahwa itu adalah salah satu dari ajaran islam. Sehingga mereka merasa mendapat kesempatan untuk menghujat islam. Tapi sayang mereka kurang jujur sehingga berusaha memasukkan ke dalam akal mereka apa-apa yang memang tidak masuk akal. Sebab mana mungkin ajaran agama yang lajim yang mengajarkan kebaikan, ia mengajarkan kebohongan. Sungguh penglihatan itu adalah penglihatan yang hanya main-main. Sebab kalau ingin melihat Islam dengan sungguh-sungguh maka mereka harus menelaah Islam itu sendiri dan harus dari dalam. Artinya melihat ajarannya, bukan amalan pemeluknya. Khususnya amalan-amalan yang tidak baik.”

Rupanya diam-diam, dalam hati kecil mereka mengakui kebenaran kata-kata tadi, walaupun hal itu merupakan pukulan balik dari apa-apa yang mereka hujatkan pada si Muslim. Dan sudah tentu terasa agak menyakitkan. Seseorang diantara mereka tidak tahan untuk tidak angkat bicara. Maka dari itupun ia berdiri dan berkata dengan agak menyindir, “Baiklah, anda telah mengadakan pembelaan untuk mereka dengan sesuatu yang nampak masuk akal. Hemm… tapi bagaimana  anda dapat membela keterlambatan anda ini?” dia berkata sambil menoleh ke kanan dan ke kiri dan sambil menahan tawa. Sudah tentu ketika ia selesai mengucapkan kata-katanya tadi, disambut gelak tawa para hadirin. Karena mereka merasa kembali mendapat angin sehingga serangan mereka yang pertama terasa tumpul, bahkan membalik.

Setelah mereka berhenti tertawa, si muslim menjawab, “Saudara-saudara sehubungan dengan keterlambatan kami, maka sesungguhnya kamipun tidak menghendakinya, namun apa boleh buat kenyataan telah menunjukkan hal lain. Kami telah dihadapkan pada suatu kenyataan yang membuat kami terpaksa terlambat hadir di pendopo ini. Kenyataan yang kami maksud adalah tidak adanya perahu penyebrangan yang dapat menyebrangkan kami dari pinggiran desa kami ke desa ini. Sebab sebagaimana saudara ketahui juga bahwa desa kami dengan desa ini dipisahkan oleh sungai yang cukup besar dan berbahaya. Nah, karena tidak ada perahu penyebrang, maka kami menunggu di pinggir sungai sampai lama sekali. Ehh… tau-tau pohon besar yang ada di samping kami bergoyang keras. Kami waktu itu menjauhkan diri, tapi tetap memandangi pohon yang semakin keras bergoyang itu. Keanehan berikutnyapun terjadi. Yaitu pohon itu tumbang dan terpotong-potong. Tidak cukup sampai disitu. Pohon itu terpecah-pecah teratur dan akhirnya menjadi lempengan-lempengan itu satu sama lain menempel dengan eratnya dan membentuk sebuah perahu kecil. Tentu saja bentuk itu mengingatkan kami akan janji kami untuk bertemu dengan saudara-saudara di sini, maka kami pergunakan perahu kecil itu untuk menyeberangi sungai besar itu dan sampailah kami disini.”

Tentu saja cerita si Muslim tadi membuat geer… para hadirin. Sampai-sampai ada yang terpingkal-pingkal. Mereka merasa cerita si muslim ini adalah cerita edan-edanan. Orang yang tadi berdiri merasa sangat tersinggung, karena merasa dipermainkan. Maka iapun berdiri lagi dan berkata dengan lantang, “Hai orang muslim, apakah kami datang dan menunggu anda di sini dengan begitu lama hanya untuk mendengarkan pembelaanmu yang gila ini?”

“Gila?” Tanya si muslim.

“Lho, apa kamu belum menyadari kegilaan ceritamu itu?” ia balas menanya.

“Aku belum tahu apa yang anda maksudkan dengan cerita gilaku ini.” Si muslim menjawab. Orang yang berdiri tadi sudah hilang kesabarannya, sambil berteriak ia berkata,

“Hai orang kolot! Apakah meyakini adanya perrahu yang jadi sendiri itu bukan suatu yang gila? Apakah kamu ingin mengajak kami ingin gila seperti kamu?”

Si muslim tadi agak tidak segera menjawab sebab pendopo menjadi gaduh, ada yang mengumpat dan ada yang tertawa terpingkal-pingkal. Setelah keadaan agak tenang, maka si muslim memulai jurus pamungkasnya yang telah dipersiapkan sejak semula. “saudara-saudara, anda menertawakan kami, mengumpat kami dan mengatakan bahwa kami gila, hanya karena kami mengatakan bahwa ada perahu kecil yang jadi dengan sendirinya. Nah, sekarang kami akan bertanya kepada anda sekalian, ‘Kalau mempercayai perahu kecil yang jadi dengan sendirinya adalah suatu kegilaan, apakah mempercayai alam yang luas, yang besar dan teratur ini jadi dengan sendirinya, tanpa Pencipta Yang Maha Pandai, bukan merupakan suatu kegilaan pula? Bagi kami, hal yang demikian itu lebih gila dan benar-benar perlu ditertawakan.”

Orang-orang yang sudah mulai memahami arah pembiacaraan si muslim tadi, mulai merasa bahwa selama ini mereka berada dalam kesalahan yang sebenarnya mudah dilihat dan dikoreksi. Sebagian para hadirin diam-diam merasa kagum juga terhadap kecerdikan si muslim, dan mereka mulai menanyakan tentang ajaran Islam kepadanya.

Begitulah, dialog itu berjalan dengan semakin akrab, dan kemudian berakhir dengan masuknya sebagian dari mereka ke agama suci Islam.

Cerita tentang dialog di atas menunjukkan betapa mudah dan sederhananya dalil yang dipakai untuk memahamkan kita tentang adanya pencipta alam semesta ini. Dalil tersebut tersebut terdiri di atas dalil sebab-akibat. Walaupun dengan pengertian yang sangat sederhana.

4 thoughts on “Alam Ada Dengan Sendirinya!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s