Aql: Letak Akal dalam Pandangan Islam

Bismillah al-Rahman al-Rahim

Mahluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah Akal (hadits)

Dalam diskusi Letak Akal dalam Pandangan Islam ini, analogi komputer dapat membantu pemahaman dan mendekatinya dalam beberapa hal. Analogi ini digunakan hanya untuk membantu pemahaman dan tidak untuk dugunakan dalam arti yang lebih jauh. Karena tidak ada satu analogi pun yang sempurna. Analogi yang paling sempurna adalah benda itu sendiri.

Bayangkan sebuah layar dan semua aktivitas pada layar tersebut sebagai gambaran dunia eksistensi material. Layar adalah dimensi nyata (yang dapat dicerap) dari komputer. Sebuah program komputer yang sedang berjalan adalah simulasi sebuah alam yang kecil lengkap dengan simulasi benda/makhluk (dengan sense yang memungkinkan mereka saling beriteraksi dengan benda lain dalam layar) dan mensimulasikan hukum (ambillah program games dalam komputer) – sebagai usaha benda/mahluk untuk memahami lingkungannya (dalam layar) merepresentasikan ilmu dan semua cabangnya (fisika, kimia, dll). Ilmu-ilmu ini memberikan kekuatan pada benda/mahluk untuk memahami dan mengontrol dimensi nyata/dimensi horizontal (layar) dari simulasi alam kecil tadi.

Sejalan dengan tampaknya eksistensi material dalam layar, sebuah proses yang rumit terjadi dalam komputer. Image-image di layar adalah kumpulan dari berkas sinar pixel per pixel yang melintasi layar tersebut. Mungkin ada sebuah program (atau beberapa program yang saling berkaitan) yang berjalan dalam RAM. Pada level yang lain ada sebuah pola elektrik (informasi) yang berjalan terarah pada jalur yang komplek melalui chips dalam motherboard. Terdapat pula memori (baca: ruang) kosong untuk program-program yang tidak diketahui yang terdapat dalam disk. Kesemua ini menggambarkan tingkatan realitas (Alam yang terekam dalam layar melalui tahapan-tahapan ini). Projeksi dalam layar monitor adalah manifestasi visual (material) pada tahapan level-level eksistensi. Level-level lain dari eksistensi adalah pondasi, atau substratum (lapisan dasar) dari alam pada layar. Level-level tersebut merupakan representasi dimensi vertikal (yang tak tampak) pada simulasi alam tersebut.Analogi ini kita gunakan hanya sebagai pengantar, sekarang marilah kita memaparkan konsep akal (intellect) dalam Islam.

Ilmu pengetahuan adalah perbuatan alam horizontal karena pengetahuan tersebut membantu pengembangan pengertian kita tentang dunia luar. Ilmu pengetahuan itu membentuk pemahaman kita tetapi tidak sepenuhnya bergantung pada hal tersebut. Ilmu pengetahuan (science) adalah sesuatu yang tidak stabil bila kita lihat dari pandangan teoritis – pengetahuan tersebut bergantung pada hipotesa dan eksperimen, bukan pada prinsip self-evident.

Ilmu pengetahuan dapat memodelkan dunia apa adanya, ilmu pengetahuan menjelaskan dunia pada kita tetapi tidak dapat memberikan keterangan apapun tentang pondasi atau penyokong dunia dan tujuan penciptaan dunia. Ilmu hanya menerangkan dunia horizontal kita (apa yang mampu dicerap oleh panca indra) tetapi tidak mampu (setidaknya dalam bentuk yang sekarang ini) menerangkan dunia (alam) vertikal kita.

Ilmu pengetahuan dan alasan (science and reason) sangat lebar dan panjang tetapi kurang dalam. Mereka kehilangan dimensi ketiga ini, sehingga mereka yang melihat dunia ini hanya dari kaca mata ini seperti layaknya orang bermata satu. Dia merasakan dunia, tapi hanya dalam dimensi yang datar yang memiliki panjang dan lebar saja, tetapi tidak memiliki tinggi, tampa isi.

Jika humanisme hanya dibentuk oleh ilmu pengetahuan semata, hasilnya adalah manusia dengan pengetahuan horizontal semata, sebuah pengetahuan yang luas tantang kinerja alam semesta tampa pengertian tentang tujuan– pertanyaan ‘mengapa’ dari sebuah keberadaan. Hal tersebut seperti mengetahui bagaimana mobil bekerja, bagaimana setiap bagian terhubungkan satu dengan yang lain, bagaimana menjalankannya dengan seefisien mungkin, tetapi tidak mempunyai tempat, tidak mempunyai arah dan tujuan untuk mengendarai. Science dapat memformulakan humanisme “sebagai kapasitasnya, tetapi bukan tujuannya”. (Muthahari, Fundamentals of Islamic Thought, Mizan Press). Science dapat memberikan kekuatan fundamental dan kemampuan, sebuah kekuatan yang tergantung kepada keinginan dan kehendak manusian.

Manusia mempunyai keterbatasan dalam memandang ketika ia menggunakan panca indranya. “Orang adalah binatang secara fisiknya dan manusia secara mentalnya.” (Muthahhari, Fundamental). Dia harus berusaha untuk menggali potensi kemanusiaannya, daripada sisi kebinatangannya “…dia bergerak meninggalkan kebinatangannya, individual, material, nafsu…” (Muthahhari, Fundamentals) dan menggunakan insturmen yang diberikan kepadanya dengan ilmu pengetahuan untuk mencapai tujuan akhir. Melalui pengetahuan dia dapat menaklukkan dunia horizontal. Tetapi dia hanya dapat mencapai kemanusiaannya ketika ia memperhatikan aspek vertikal dari eksistensinya. Sebuah pengertian yang komprehensif hanya dapat dicapai dengan memadukan kedua dimensi pengetahuan, horizontal dan vertikal. (Keyakinan tampa ilmu pengetahuan adalah hampa.)

Ada kecendurungan untuk menyerang dunia Islam dengan ideologi sekuler yang ada. Ssebagai contoh misalnya ada sebuah wacana demokrasi persepektif Islam, sosiologi Islam, dsb. Pengadopsian idiologi atau metodelogi sekuler tersebut dicarikan dalilnya dalam Islam. Hal ini dilakukan agar Islam tampak dapat mengikuti perkembangan zaman dan membuat Islam seolah-olah dapat diterapkan pada Barat dan masyarakat muslim barat. Apa yang sebenarnya terjadi adalah Islam sebenarnya mengalami degredasi dari status sifat menjadi benda. (misalnya demokrasi, rasionalisme). Sehingga Islam tidak lagi dapat dilihat sebagai prinsip dasar yang menyeluruh yang mengembangkan sebuah sistem yang konprehensif dan has yang tersendiri. (Sayyid Husain Nasr, Living Sufism).

Menjadikan pembuktian atau metodelogi pengetahuan sebagai jiwa dari pencapaian ilmu pengetahuan dan satu-satunya kriteria kebenaran, yang haq dan yang bathil, adalah kecenderungan pandangan modernisme. “Pandangan ini berasal dari pemikiran filosofi Descarte ….bagi Descarte penciptaan tertinggi dari realitas adalah ego manusia … teori ‘cogito ergo sum’ – aku berfikir maka aku ada – menempatkan batasan akan pengetahuan manusia dengan mengikatnya pada kepentingan individual dan kesadaran akan ego individual.” (Nasr, Living Sufism). Trend rasionalisme moderen mencari difinisi tentang realitas alam semesta, tetapi alih-alih mencari dnifinisi, trend tersebut justru membatasi pengertian akan realitas.

Dalam Islam “….logika adalah salah satu aspek dari kebenaran dan Kebenaran (al-Haq) adalah salah satu nama dari Nama-Nama Allah.” (Nasr, Living Sufism). Penggunaan logika adalah seperti anak tangga dari sebuah tangga – pengguan yang tepat dapat membatu manusia mi’raj dari alam materialnya. Daya nalar adalah kemampuan bawaan dalam diri manusia yang meliputi logika dan dapat mengangkatnya dangan cepat ke atas. Akan tetapi penggunaan akal ini harus terbebas dari kehendak nafsu kebinatangan manusia, kecenderungan dunia material. Sebaliknya, daya nalar dapat ditumbangkan untuk memperoleh pembenaran palsu bagi keinginan nafsu manusia walaupun keinginan nafsu tersebut sangat boleh jadi salah. Daya nalar dan ilmu pengetahuan harus dapat sejalan dengan serasi. “….orang yang tidak mempunyai daya nalar tidak akan sukses. Orang yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan (yang benar) tidak mempunyai daya nalar (yang benar)… Orang yang tidak mempunyai daya nalar tidak dapat diterima kecuali hanya sekedar mayat belaka.” (Al-Kafi, The Book of Reason and Ignorance).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s