DIALOG RASULULLAH SAW DENGAN BUHAIRAH

Rasulullah saw. berkata, “Sadarlah Buhairah. Iblis masih meninggalkan sepenggal keraguan lagi dalam dirimu. Utarakanlah keraguanmu, maka aku akan membantumu.”

Buhairah berkata, “Iblis telah berbuat dosa kepada Allah dan dibuang dari surga karenanya. Aku tak akan lagi mempertanyakan keadilan dalam soal ini. Adam pun dibuang dari surga, tapi Allah mau memaafkan Adam sementara Iblis masih dibiarkan menanggung kutukan-Nya. Iblis menuntut bagian atas ampunan-Nya. Maukah Allah mengabulkan?”

Rasulullah saw berkata, “Dosa kesombongan tidak serta merta menghalangi Iblis dari hadirat-Nya. Masalahnya adalah, Iblis menyalahkan Allah atas kesombingannya itu. Ingatlah ketika Musa meninggalkan kaumnya untuk berdialog dengan Allah di puncak gunung. Selama berhari-hari anak-anak Israel menantinya. Tapi rupanya kesabaran mereka memang pendek. Samiri setuju dengan mereka yang mengatakan,

‘Musa tidak akan kembali. Entah dia telah meninggalkan kita atau bahkan sudah mati dihukum Allah. Namun kita harus tetap mempertahankan iman kita pada-Nya Yang telah membebaskan kita dari belenggu fir’aun.’

Dengan alasan itu, Samiri kemudian membuat sebuah berhala berwujud anak sapi, terbuat dari emas. Lalu dia berkata,

‘Lihat! Inilah Tuhan Yang telah membebaskan kita dari belenggu Fir’aun!’

Dan berbondong-bondonglah anak-anak Israel menyembah berhala.

Sekembalinya dari puncak gunung, tentu saja Musa gusar melihat hal ini. Tapi ia tahu siapa yang bertanggung jawab dan segera pergi mencari jawaban. Ia berkata pada Harun,

‘Apa-apaan ini? Anak sapi ini sosok berhala. Bagusnya dibakar, bukan disembah! Mengapa kau biarkan?’

Harun langsung berlutut dan memohon maaf tanpa mengutarakan alasan macam-macam.

Saat Musa bertanya pada Samiri, Samiri berbisik,

‘Ini tak seperti yang kau lihat, wahai Musa. Sepeninggalmu, aku membuat berhala itu, tapi kutebarkan tanah bekas jejakmu di atasnya. Dengan demikian, aku tetap mempertahankan imanku kepadamu dan meninggikanmu.’

Dengan geram Musa berkata,

‘Kukutuk kau dan kuusir kau! Barangsiapa yang melanggar perintahku, ia bukan sahabatku!’

Samiri berkata, ‘Bagaimana dengan Harun? Dia tak bisa mencegahnya! Hukuman yang sama mestinya juga dijatuhkan baginya.’

Musa berkata, ‘Dia segera meminta maaf tanpa mengutarakan alasan macam-macam. Sedangkan kau, sudah berbuat salah tapi masih berani beralasan macam-macam dan menyebut dirimu beriman. Kau bukanlah sahabatku, apapun katamu!’

Ketika Allah memberikan kesempatan pada Adam untuk berdalih, Adam menolak dan hanya menunujukkan penyesalannya, sementara Iblis belum lagi bertobat. Semua yang dikatakannya (Iblis) padamu semua hanya penyangkalan dan pelemparan kesalahan.”

Rasulullah saw kemuadian berkata, “Telah kuungkapkan semua ini padamu sebelumnya, tapi walaupun engkau menyimak, rupanya engkau belum memahami. Iblis itu layaknya batu dalam genggaman tanganmu. Ia adalah berhala keraguan yang cenderung digandrungi umay manusia–bahkan saat mereka memasuki istana kehadiran-Nya. Terserah padamu untuk membuang atau menggenggam batu itu erat-erat. Keputusanmu akan menentukan apakah selama ini engkau beriman atau tidak.”

Sumber: Shawni, Iblis Menggugat Tuhan. Hal. 138-142. Penerbit Dastan Books.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s